describe your menu link here

describe your menu link here

describe your menu link here

describe your menu link here

describe your menu link here

describe your menu link here

describe your menu link here

describe your menu link here

Berusaha Tetap Berpikir Positif Dengan Terjadinya Kecelakaan Pesawat Part 2

http://www.atm303.com/

Semua kebiasaan tersebut tentu tidak sehat buat mentalku. Padahal, seiring aku makin sering membaca dan menonton dokumenter seputar kecelakaan pesawat yang dikutip oleh atm303, aku sadar betapa transportasi udara adalah mode transportasi paling aman di seluruh dunia.

Aku sadar betul bahwa kematian gara-gara kecelakaan motor peluangnya 3.000 kali lipat lebih besar kita alami dibanding mati karena naik pesawat. Begitu pula dengan mati saat berkendara dengan mobil yang 100 kali lipat lebih mungkin dialami siapapun. Industri penerbangan diregulasi jauh lebih ketat dibanding kapal, kereta, serta tentu jauh lebih teratur dibanding situasi lalu lintas yang ugal-ugalan di Indonesia. Sementara aku berangkat kerja naik ojek online setiap hari. Tapi kenapa aku tidak pernah merasa sekhawatir ketika jadi penumpang pesawat?

Pelan-pelan, pekan ini aku berusaha mengatasi rasa takutku yang berlebihan. Tidak boleh seperti ini terus. Jika ketakutanku menang, maka aku tidak mungkin bisa berpergian normal. Apalagi aku tinggal di Indonesia, wilayah khatulistiwa yang jadi salah satu zona paling garang bagi penerbangan yang biasa disebut inter tropical convergence zone (ITCZ). Bukan sekali dua kali kondisi cuaca jadi kontributor utama kecelakaan.

Untunglah, pakar segera mengingatkan, semua kekhawatiranku tersebut adalah hasil reaksi otak belaka. “Ketakutan terbang itu hanyalah perasaan. Perasaan bukanlah fakta,” kata Martin Seif, psikolog klinis yang punya spesialisasi soal anxiety disorders. “Hampir tiap orang yang takut akan bilang ‘ketakutan saya tidak sebanding dengan bahayanya, dan saya tidak bisa memikirkan caranya untuk keluar (dari kekhawatiran)’.”

Oke. Jadi aku tidak sendirian punya obsesi yang berlebihan sama insiden pesawat, dan seharusnya tidak menyerah pada ketakutan itu. Tapi kira-kira kenapa ya aku terus saja khawatir?

Bagi psikolog forensik, pemicunya adalah sorotan media yang berlebihan tiap kali terjadi kecelakaan pesawat. Bagi industri media, kecelakaan pesawat memang punya “daya tarik” tersendiri dibandingkan dengan bencana mematikan lainnya. Google Trends global pada 2014 menyebutkan perhatian terhadap kecelakaan pesawat di udara jumlahnya lebih banyak 43 persen daripada kecelakaan lain yang terjadi di muka bumi. Sebanyak 992 korban jiwa kecelakaan pesawat pada 2014 “menarik atensi” lebih besar, daripada 1,24 juta orang yang meninggal akibat moda transportasi lain pada tahun yang sama.

Rating acara prime time stasiun televisi CNN naik 68 persen saat mereka mengangkat rangkaian berita soal hilangnya Malaysia Airlines HM370. Begitu pula dengan redaksi BBC yang mengakui memperoleh traffic audiens dalam jumlah besar, saat aktif meliput tsunami Jepang.

Psikolog Reza Indragiri menyebut sorotan besar-besaran media, termasuk VICE Indonesia, tentang suatu hal termasuk kecelakaan pesawat bisa mengakibatkan ‘vicarious trauma’. Bentuknya adalah guncangan kejiwaan audiens yang bisa berlangsung serius dan berkepanjangan, bahkan bisa menjadi fobia.

Reza menyebut bahwa setiap orang punya dorongan untuk memberikan makna utuh atas objek yang seseorang hadapi. “Terus menerus mencari dan mengekspos berita tentang kecelakaan adalah manifestasinya. Dilakukan selama belum ada kejelasan utuh,” kata Reza pada VICE. “Obyeknya satu, yaitu kecelakaan pesawat. Tapi tafsiran atas kejadian itu bisa sangat majemuk. Bahkan tanpa batas. Pintu yang tanpa batas itulah yang dieksploitasi secara kreatif.”

Itulah mengapa di tengah situasi pencarian Lion Air JT 610 yang belum selesai, beberapa media merasa harus mengabarkan hal baru menyelinginya dengan informasi simpang siur. Taktik media ini dilegitimasi pula dorongan manusia untuk mencari tahu soal pesawat. Artinya ada banyak orang macam aku. Takut banget tapi penasaran. Dalam kondisi macam inilah, redaksi media seringkali terpelset mengeksploitasi kemalangan korban dengan berita macam potret pramugari yang jadi korban dalam insiden Lion Air, yang jelas melanggar privasi keluarga, serta tak ada kaitannya dengan peristiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

>